Ketika Cinta Bertasbih (Masalah Poligami Yang Beda Pandangan)

Rabu, 10 Juni 2009


bukucatatan-part1.blogspot.com
KETIKA CINTA BERTASBIH merupakan film Indonesia yang dirilis pada tanggal 11 Juni 2009 yang disutradarai oleh Chaerul Umam. Film ini dibintangi antara lain oleh Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin, Andi Arsyil Rahman, Meyda Safira, Deddy Mizwar, Niniek L. Karim, Didi Petet, Habiburrahman El Shirazy, Aspar Paturusi, Din Syamsudin, Slamet Rahardjo, dan El Manik.

Film ini diangkat dari novel best seller karangan Habiburrahman El Shirazy yang berjudul sama KETIKA CINTA BERTASBIH. Film ini juga adalah FIlm Indonesia PErtama yang Syuting di Kairo, Mesir.

Film yang menceritakan kehidupan tokoh utamanya Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo. Cerita yang bisa menjadi inspirasi bagi kita, ketika melihat bagaimana kerja keras sang tokoh yang menuntut ilmu sekaligus berjuang menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Cerita yang juga bisa menuntun kita, ketika melihat usaha dan perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama.
...
Sukses film AYAT – AYAT CINTA produksi MD Entertainment, hasil adaptasi novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy terasa fenomenal. Lebih dari tiga juta pasangan mata penonton rela menyisihkan waktu menyaksikan film garapan sutradara muda berbakat Hanung Bramantyo tersebut. Menyusul itu semua, kembali novel dwilogi best seller karya Habiburrahman El Shirazy berjudul KETIKA CINTA BERTASBIH dibakukan dalam sebuah karya film oleh Sinemart Pictures.

Kali ini sutradara kawakan Chaerul Umam dipercaya untuk menginterpretasikan novel yang telah terjual 350.000 copy dalam waktu kurang dari 2 tahun itu Bandingkan dengan AYAT-AYAT CINTA yang mencapai angka 400.000 kopi selama 3 tahun.

Dalam sebuah acara press conference di Hotel Sultan, Selasa (25/3) malam, sang novelis Habiburrahman El Shirazy mengatakan pesan cinta yang terkandung dalam karya novelnya kali ini adalah cinta yang membawa pahala dan diridhoi Allah. "Sebuah bentuk cinta yang membawa manfaat atau kebaikan, cinta lawan jenis dalam koridor keagamaan," urainya. Bedanya, kalau AYAT – AYAT CINTA mengintip Indonesia dari Kairo, sebaliknya KETIKA CINTA BERTASBIH mengintip Kairo dari Indonesia.

Novelis berdarah arab yang biasa disapa Kang Abik ini tidak merasa ada kesan terburu-buru saat kesuksesan AYAT–AYAT CINTA belumlah pudar novelnya sudah difilmkan kembali. Menurutnya semua ini atas permintaan penonton juga. Di samping itu penandatanganan kontrak dengan Sinemart jauh sebelum launching film AYAT–AYAT CINTA.

"Saya bersyukur film AYAT – AYAT CINTA sangat fenomenal dan ini bisa diikuti dan dihayati anak muda menuju kebaikan. Semua ini merupakan bentuk anugerah Allah untuk menguji saya. Apakah saya tenggelam dalam kufur nikmat atau saya bersyukur pada Allah. Soal puas atau tidak dengan hasil lalu, saya sendiri tidak pernah puas dengan karya novel saya, selalu ingin menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Selama karya saya turut andil dalam negara ini silahkan saja," ujarnya.

Untuk penentuan karakter penting dalam film ini Sinemart akan melakukan audisi secara terbuka. Karena karakter haruslah bisa mendekati keinginan pembaca. Syarat lainnya pemain diharuskan menguasai novel itu sendiri, bermoral bersih, dan bisa mengaji. Untuk itu Sinemart akan hunting sampai ke Kairo, agar setting film bisa mendekati karakter novelnya. Untuk ini semua Kang Abik akan dilibatkan untuk penentuan pemain dan penulisan skenario.

Sementara bagi Chaerul Umam tawaran menyutradarai film tersebut bak pucuk dicinta ulam tiba. "Sebelum ada tawaran ini, saya sudah membaca novelnya dan berkhayal untuk bisa difilmkan karena konfliknya dalam dan halus. Pucuk dicinta ulam tiba," ujar sutradara terbaik Piala Citra tahun 1992.

Film ini juga menandai kembalinya dia ke dunia film setelah sempat vakum selama kurang lebih sebelas tahun setelah KEJARLAH DAKU KAU KUTANGKAP (1986), TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH (1982), NADA DAN DAKWAH (1992), dan FATAHILLAH (1997).

"Dalam sebuah karya tidak ada istilah tua dan muda (dibandingkan Hanung Bramatyo), selalu muda. Dan saya optimis karena tema Islam sedang diminati dan sudah lama saya tidak mendapatkan kesempatan seperti ini. Secara pribadi saya optimis, tinggal tunggu takdir," katanya mantap.

Adakah film Indonesia yang cukup arif dalam memotret persoalan poligami? Jika di film //Ayat Ayat Cinta//(AAC) garapan sutradara Hanung Bramantyo, poligami dikemas sebagai polemik yang hadir dari politisasi agama maka di film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) poligami justru dikemas dalam cara yang cukup arif dan bijak tanpa menghadirkan konfrontasi maupun makna sinikal. ”Di sini justru melihat poligami secara lebih jernih,” kata Imam Tantowi yang menjadi penulis skenario adaptasi film KCB usai preview film ini di Jakarta, Selasa (2/6/).

Kejernihan yang dimaksud oleh Imam itu diperlihatkan lewat adegan ketika pertemuan keluarga Furqon dengan Anna Althafunnisa. Poligami yang selama ini kerap dijadikan black campaign terhadap Islam, dalam film ini justru dihadirkan lewat sebuah dialog yang setara dan berdasarkan keilmuan. Anna mengajukan dua syarat sebelum menerima tunangan Furqon. Selain harus menetap di lingkungan pesantren, Anna juga tak ingin Furqon melakukan poligami selama dirinya masih hidup dan bisa melayani kewajibannya sebagai seorang istri.

Dari adegan tersebut sempat dimunculkan perdebatan di antara kedua alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir tersebut. Namun Furqon dapat memahami permintaan Anna karena rujukan yang digunakan memiliki dasar keilmuan yang jelas. Dalam film itu dihadirkan kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah sebagai bahan rujukan.

Habiburrahman El Shirazy, penulis novel sekaligus aktor dalam film KCB, mengatakan persoalan poligami yang hadir di film ini menjadi semacam khasanah Islam yang luar biasa terhadap kemanusiaan. ”Poligami bukan sebuah keharusan tetapi ruqsoh atau keringanan untuk solusi kemanusiaan,” ujarnya.

Namun demikian Kang Abik, begitu sapaan Habiburrahman El Shirazy, menegaskan persoalan poligami yang muncul dalam film KCB ini bukan dihadirkan untuk menjadi semacam anti-tesis dari polemik poligami yang pernah dihadirkan pada film AAC. Kang Abik mengatakan setiap penulisan dialog yang ada pada film ini semaksimal mungkin dibuat mirip dengan versi novelnya. ”Sutradara di film ini begitu jujurnya dengan tidak ada menambah-nambahkan versi,” kata Habiburrahman.

Persoalan poligami sendiri hanyalah sebagian kecil dari pesan yang tersaji pada film KCB. Pesan lainnya dari film ini adalah bagaimana perjuangan seorang anak muda lewat karakter Azzam untuk menggapai kesuksesan. Film yang rencananya dirilis di delapan negara – Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Mesir, dan Australia – baru mulai tayang pada 11 Juni mendatang. Film ini menjadi karya novel best seller kedua dari Habiburrahman El Shirazy yang diadaptasi menjadi cerita film bioskop. Sebelumnya Ayat Ayat Cinta yang menjadi salah satu film box office nasional pada 2007.

Yang membedakan film ini dengan karya novel Habiburrahman yang telah lebih dahulu diangkat menjadi film adalah film ini berusaha melakukan pendekatan yang hampir sama dengan apa yang ada di dalam cerita novel. Termasuk di antaranya, proses syuting yang dilakukan di Mesir selama 22 hari. Sedangkan untuk mencari karakter tokoh utamanya, sutradara Chaerul Umam juga melakukan terobosan dengan cara mengadakan audisi ke sembilan kota.

Hasilnya, dalam film ini Chaerul Umam memang harus bekerja ekstra keras untuk mengarahkan akting para pemain debutan yang tampil sebagai tokoh utama pada film ini. Para tokoh utama itu adalah Kholidi Asadil Alam yang berperan sebagai tokoh utama Azzam. Kemudian Oki Setiana Dewi (Anna), Andi Arsyil Rahman (Furqon), Meyda Sefira (Ayatul Husna), dan pesinetron Alice Sofie Norin yang menjadi Eliana Pramesti. Para debutan itu kemudian dikolaborasikannya dengan para sineas senior semacam Deddy Mizwar, Didi Petet, Tika Putri, serta Ninik L Karim.

Sementara itu kelemahan yang cukup terasa dari film ini terdapat pada dialog yang terlalu panjang dan terasa kurang menghadirkan konflik. Bahkan, film yang akhirnya dijadikan sekuel pertama dari dua sekuel Ketika Cinta Bertasbih ini terasa sangat menggantung saat memasuki ending cerita. Pemenggalan sekuel ini dilakukan semirip mungkin dengan pemenggalan cerita yang ada pada novelnya. ”Mengapa film ini akhirnya harus kita bagi dua karena setelah dibuat ternyata durasinya hampir empat jam. Akhirnya terpaksalah kita membaginya menjadi dua cerita saja,” ujar Chaerul Umam, sang sutradara film. (WP/Ra/RH)
Selengkapnya...

'HARRY POTTER AND THE HALF-BLOOD PRINCE' Tayang Lebih Awal

Kapanlagi.com
Daniel Radcliffe dan kawan-kawan bakal segera memenuhi kerinduan penggemarnya di layar lebar. Lewat serial film HARRY POTTER terbaru, ia bersama para sobat kentalnya di sekolah sihir akan kembali beredar di bioskop lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan.
...

Bos perusahaan distributor film Warner Bros, Dan Fellman, mengatakan HARRY POTTER AND THE HALF-BLOOD PRINCE diluncurkan pada Rabu, 15 Juli, dua hari lebih awal dibandingkan dengan tanggal peluncuran sebelumnya.


Hal itu memberi film tersebut start terdepan pada akhir pekan, saat persaingan ketat musim panas bagi film Hollywood.


Itu adalah perubahan jadwal kedua bagi tayangan keenam dalam petualangan anak laki-laki penyihir itu. HALF-BLOOD PRINCE sebelumnya dijadwalkan diluncurkan musim gugur lalu sampai studio tersebut menahannya sampai Juli tahun ini guna meraih keuntungan pada akhir pekan pembukaan pada musim panas yang sibuk di Hollywood.
Selengkapnya...